JN UKMI – Sebelas Maret Islamic Festival (SIFT) 2026 menggelar Grand Opening yang diisi dengan talkshow di Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada Ahad (4/10/2026). Mengusung tema “Grow Inspired by The Companions” dengan tajuk “Menempa Resiliensi Diri dan Merancang Kontribusi Pemuda Masa Depan’. Kegiatan ini menjadi ruang bagi generasi muda muslim untuk memperkuat karakter, meningkatkan kesiapan menghadapi perubahan zaman, tantangan kesehatan mental di era digital, serta membangun kontribusi positif bagi masyarakat.
Rangkaian Grand Opening SIFT 2026 diawali dengan pembukaan, tilawah Al-Qur’an, doa, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan, simbolisasi pembukaan SIFT 2026, serta parade Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) UNS melalui pembacaan ikrar. Setelah rangkaian pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan dua sesi seminar yang membahas tantangan pemuda Muslim di era disrupsi dan persoalan kecemasan serta ketergantungan terhadap teknologi.
Seminar sesi pertama menghadirkan Prof. Dr. Rer. Nat. Witri Wahyu Lestari, S.Si., M.Sc. yang merupakan Top 100 Asian Scientist dari Universitas Sebelas Maret dengan materi bertajuk “Navigasi Pemuda Muslim di Era Disrupsi”. Dalam pemaparannya, Prof. Witri menekankan pentingnya karakter sebagai landasan utama bagi generasi muda dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Menurutnya, ilmu dan keterampilan yang dimiliki seseorang perlu diarahkan oleh karakter yang kuat agar dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.
Prof. Witri mengajak peserta untuk meneladani karakter para pemuda yang disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti Nabi Ibrahim yang kritis dan berani mencari kebenaran, Nabi Yusuf yang memiliki integritas, Nabi Musa yang peduli dan solutif, Nabi Ismail yang taat, serta Nabi Yahya yang dikenal dengan kesalehan dan kebijaksanaannya. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi pedoman bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Lebih lanjut, Prof. Witri menjelaskan bahwa era disrupsi ditandai dengan perubahan cepat dalam bidang teknologi, ekonomi, dan sosial. Kondisi tersebut membuat generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan untuk memperoleh pekerjaan. Pemuda perlu terus belajar, beradaptasi, menciptakan inovasi, dan mampu menyelesaikan permasalahan yang muncul di masyarakat.
Sejumlah tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini diantaranya melimpahnya informasi yang belum tentu benar, ketergantungan terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menurunnya fokus akibat media sosial, kesenjangan keterampilan, perubahan teknologi yang cepat, serta tantangan moral dalam pemanfaatan teknologi. Meski demikian, perkembangan zaman juga membuka peluang untuk mengakses berbagai sumber pengetahuan, mengikuti pembelajaran dari universitas di berbagai negara, melakukan penelitian, membangun usaha, hingga mempublikasikan karya.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Prof. Witri menekankan pentingnya menyelaraskan iman dan ilmu. Iman menjadi dasar dalam membangun akhlak, integritas, dan tanggung jawab, sedangkan ilmu mendorong kecerdasan, kemampuan berpikir kritis, serta cara berpikir ilmiah. Generasi muda juga perlu mengembangkan keterampilan berpikir, kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi, karakter yang kuat, serta kompetensi teknologi agar mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan prinsip yang dipegang.
Seminar sesi kedua menghadirkan Bapak Ario Muhammad, Ph.D., penulis, peneliti, sekaligus pendiri Edufic, dengan materi “The Anxious Generation: Kenapa Hari Ini Kita Mudah Cemas, Kosong, dan Kecanduan?”. Materi ini membahas berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda di tengah perkembangan internet, media sosial, dan teknologi digital. Di antaranya adalah perasaan kesepian meskipun memiliki banyak interaksi di dunia maya, kesulitan beristirahat dengan baik, serta munculnya kegelisahan meskipun kondisi kehidupan dari luar terlihat baik-baik saja.
Bapak Ario menjelaskan bahwa perubahan pola tumbuh kembang dari play-based childhood menuju phone-based childhood turut memengaruhi cara generasi muda berinteraksi. Jika sebelumnya anak-anak banyak belajar melalui permainan dan interaksi langsung, penggunaan gawai yang berlebihan dapat mengurangi kesempatan untuk berlatih bersosialisasi, membangun empati, dan menghadapi berbagai situasi secara nyata.
Oleh karena itu, interaksi sosial secara langsung perlu kembali dibiasakan. Hal tersebut dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan ponsel ketika berkumpul bersama teman, memperbanyak percakapan, dan menyediakan waktu untuk berbagi pengalaman. Lingkungan pertemanan yang positif juga menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk kebiasaan dan karakter generasi muda.
Dalam pemaparannya, Bapak Ario turut menguraikan tiga persoalan yang berkaitan dengan kebiasaan digital, yaitu berkurangnya interaksi sosial (social deprivation), kurangnya waktu tidur (sleep deprivation), serta kecenderungan penggunaan aktivitas digital secara berlebihan. Kebiasaan mencari kesenangan secara instan dapat membuat seseorang semakin sulit menikmati aktivitas sehari-hari yang membutuhkan proses, seperti membaca, belajar, berolahraga, dan beribadah.
Dari perspektif Islam, Bapak Ario mengajak peserta untuk membangun kembali kedekatan dengan Allah SWT sebagai bagian dari upaya menemukan ketenangan. Ia mengangkat pentingnya muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi manusia, dan muhasabah atau evaluasi diri. Selain itu, generasi muda perlu membangun pola pikir yang baik, memilih lingkungan yang mendukung perkembangan diri, serta membiasakan aktivitas positif secara bertahap dan konsisten.
Kedua sesi seminar tersebut memberikan sudut pandang yang saling melengkapi mengenai kesiapan generasi muda menghadapi tantangan zaman. Penguasaan ilmu dan teknologi perlu disertai karakter, kemampuan mengelola diri, serta hubungan sosial dan spiritual yang baik. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga dapat memanfaatkan kemajuan tersebut untuk menciptakan solusi dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Melalui Grand Opening SIFT 2026, semangat “Grow Inspired by The Companions” diharapkan dapat mendorong generasi muda Muslim untuk terus belajar, memperkuat iman dan karakter, serta mengembangkan potensi diri. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kesiapan menghadapi masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan keterampilan teknologi, tetapi juga oleh integritas, kepedulian, dan keberanian untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.



