Di tengah pesatnya laju kehidupan modern, tekanan hidup dan kecemasan seolah menjadi bayang-bayang yang sulit dihindari. Ukuran kebahagiaan masyarakat kerap kali disempitkan hanya pada pencapaian duniawi semata, seperti tingginya nilai akademis, kemewahan harta, jenjang karir, hingga potret kehidupan ideal yang berseliweran di media sosial. Kondisi ini memicu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, yang pada akhirnya membuat generasi muda rentan mengalami rasa cemas, minder, overthinking, serta kehilangan ketenangan batin. Padahal dalam ajaran Islam, ketenangan batin bukan sekadar kebutuhan psikologis, melainkan bagian integral dari ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pemikiran ini menjadi pokok pembahasan utama dalam Kajian Rutin Kantin Vol #6 bersama Ustadz Daud Akhyari, M.Pd. di Masjid Nurul Huda UNS.
Ketenangan jiwa yang hakiki tidak hadir dari kemegahan duniawi, melainkan tumbuh dari kedekatan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Berbagai bentuk ibadah, seperti salat, zikir, maupun puasa sunnah, salah satunya puasa Arafah yang memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, bukanlah sekadar rutinitas untuk menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu, ibadah merupakan sarana utama untuk menenteramkan jiwa. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW, kebaikan akan melahirkan rasa tenang di dalam dada, sedangkan dosa dan keburukan hanya akan menyisakan kegelisahan serta keraguan. Semakin erat ikatan seorang hamba dengan Allah, semakin melimpah ketenangan yang Dia hadirkan dalam jalannya kehidupan.
Fenomena overthinking yang marak dialami saat ini umumnya timbul akibat terlalu memikirkan hal-hal di luar batas kendali manusia. Cita-cita dan harapan tentu sangat boleh dimiliki, namun kepastian hasil akhir harus senantiasa diserahkan kepada Allah. Seorang beriman tidak hanya sibuk berangan-angan, melainkan memadukan ikhtiar maksimal dengan tawakal. Prinsip penting yang patut dipegang dalam menjalani dinamika hidup adalah: "Doakan terus usahamu, dan usahakan terus doamu." Meskipun rasa khawatir terhadap masa depan merupakan hal yang manusiawi, Al-Qur'an mengingatkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 286 bahwa Allah tidak pernah membebani seseorang melainkan sesuai dengan batas kesanggupannya.
Ketenangan batin juga dipelihara melalui sikap husnuzan atau berprasangka baik terhadap setiap takdir Allah. Saat menghadapi ujian yang berat, seorang muslim diajak untuk meyakini bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik. Melalui Surah Ali 'Imran ayat 139, Allah mengingatkan agar hamba-Nya tidak merasa lemah maupun bersedih hati. Perasaan cemas dan sedih boleh hadir, tetapi tidak boleh dibiarkan menguasai diri terlalu lama. Kuncinya terletak pada kesadaran bahwa manusia mungkin memiliki banyak kendala, tetapi Allah memegang penuh seluruh kendali. Ketenangan yang sejati lahir ketika seseorang mampu berserah diri secara utuh setelah berikhtiar.
Selain itu, Islam mengajarkan agar hati tidak terpaut atau mencintai sesuatu secara berlebihan melebihi cintanya kepada Allah. Keterikatan yang berlebihan kepada dunia atau sesama manusia justru sering menjadi sumber kekecewaan dan ujian hidup. Ketika berada dalam kesusahan, seorang muslim dianjurkan meneladani kerendahan hati Nabi Musa 'alaihis salam melalui doa dalam Surah Al-Qashash ayat 24 untuk memohon kebaikan dari Allah. Menyadari bahwa setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan untuk saling melengkapi, bukan untuk saling menjatuhkan, akan membebaskan diri dari rasa minder terhadap pencapaian orang lain. Lagipula, mencari keridaan seluruh manusia adalah hal yang mustahil, sedangkan mencari ridha Allah adalah tujuan utama hidup yang sejati.
Dalam sesi tanya jawab, Ustadz Daud Akhyari juga merespons isu-isu kontekstual yang sering dialami anak muda saat ini:
- - Menghadapi Kecemasan Mencari Kerja: Kekhawatiran saat hendak melamar pekerjaan di tengah kondisi ekonomi yang sulit perlu disikapi secara bijak. Penting untuk membedakan antara kecemasan yang diiringi tindakan dengan overthinking tanpa usaha. Kekhawatiran yang memicu peningkatan kemampuan dan doa adalah dorongan yang positif, sedangkan overthinking tanpa aksi hanya membuang energi. Tugas manusia adalah berikhtiar semaksimal mungkin, lalu menyiapkan ruang keikhlasan di dalam hati untuk menerima takdir rezeki yang telah diatur Allah pada waktu terbaik.
- - Menanggapi Tekanan Hidup dan Kesehatan Mental: Terkait maraknya kasus putus asa dan tindakan merusak diri akibat beban hidup, Islam menegaskan kembali bahwa setiap ujian yang diberikan Allah pasti masih dalam batas kemampuan hamba-Nya. Ketika tekanan terasa sangat menghimpit, solusi terbaik bukanlah menjauh dari Allah, melainkan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah tidak menyukai perbuatan yang merusak diri dan senantiasa menyediakan pertolongan serta ganti yang lebih baik bagi mereka yang bersabar.
Sebagai penutup, ketenangan pada akhirnya adalah sebuah pilihan sekaligus karunia mulia dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketenangan hadir dari paduan ibadah, tawakal, kesabaran, rasa syukur, dan husnuzan. Pegangan hidup yang perlu senantiasa dihidupkan adalah "Syukur tanpa tapi, sabar tanpa tepi." Sabar bukan berarti menyerah, melainkan bertahan melangkah dengan cara yang benar. Dengan menutup telinga dari perkataan yang melemahkan dan berorientasi penuh pada ridha Allah, seorang muslim dapat menjaga kesehatan mentalnya serta meraih ketenangan jiwa di tengah era yang serba cepat.
