Struktur Al-Qur'an serta Perbedaan Nabi dan Rasul
Al-Qur'an terdiri atas 114 surat yang terbagi dalam 30 juz. Secara garis besar, kandungan Al-Qur'an terbagi ke dalam tiga bagian utama:
Sepertiga Pertama: Berisi tentang aqidah dan penegasan keesaan Allah SWT.
Sepertiga Kedua: Berisi kisah atau sejarah para nabi dan umat terdahulu.
Sepertiga Terakhir: Membahas tentang hukum dan muamalah (hubungan antarmanusia).
Dalam ajaran Islam, manusia pertama yang diciptakan adalah Nabi Adam AS. Terdapat perbedaan mendasar antara posisi nabi dan rasul:
Nabi: Orang yang menerima wahyu dari Allah SWT, tetapi tidak memiliki kewajiban untuk menyampaikannya kepada umat. Jumlah nabi diperkirakan mencapai sekitar 125.000 orang.
Rasul: Orang yang menerima wahyu sekaligus mengemban kewajiban untuk menyampaikan ajaran tersebut kepada manusia. Jumlah rasul diperkirakan sekitar 313 orang.
Di antara para rasul, hanya beberapa yang menerima kitab suci:
Nabi Musa AS (Taurat)
Nabi Daud AS (Zabur)
Nabi Isa AS (Injil)
Nabi Muhammad SAW (Al-Qur'an)
Adapun rasul lainnya menerima wahyu dalam bentuk lembaran-lembaran yang disebut suhuf.
Kesabaran Dakwah dan Hikmah Sejarah dalam Al-Qur'an
Perjuangan dakwah para nabi membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah Nabi Nuh AS yang berdakwah selama 950 tahun ("seribu tahun kurang lima puluh tahun"), namun pengikut beliau tidak mencapai 100 orang. Perjuangan dakwah para nabi penuh dengan tantangan, penolakan, dan celaan.
Pola Sejarah dan Fokus Al-Qur'an:
Fokus pada Hikmah: Al-Qur'an sering kali menceritakan kisah tanpa menyebutkan rincian nama tempat, waktu, atau tokoh secara detail. Hal ini karena fokus utama alur kisah Al-Qur'an adalah hikmah (pelajaran) yang dapat dipetik, bukan detail peristiwanya.
Pengulangan Pola Sejarah: Sejarah memiliki pola yang berulang seperti roda yang berputar. Peristiwa masa lalu sangat mungkin terulang kembali di masa kini maupun masa depan.
Jejak Masuknya Islam di Indonesia: Strategi Damai & Keteladanan Akhlak
Nabi Muhammad SAW dikenal dengan julukan Al-Amin (yang dapat dipercaya) karena kejujuran dan sifat amanahnya dalam berdagang. Karakter ini menjadi faktor penting dalam penyebaran agama Islam.
Islam mulai dikenal di Nusantara sejak abad ke-7 M melalui aktivitas para pedagang Muslim, suatu periode yang relatif berdekatan dengan masa dakwah Nabi Muhammad SAW.
Metode Penyebaran: Masuknya Islam ke Indonesia terjadi melalui jalur perdagangan, pernikahan, pendidikan, politik, dan budaya secara damai tanpa ekspansi militer.
Pentingnya Akhlak dalam Dakwah: Masyarakat lokal menerima pedagang Muslim dengan baik karena para pedagang memperlihatkan akhlak yang jujur dan amanah. Mereka tidak hanya berdakwah secara lisan, tetapi mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Refleksi Dakwah Masa Kini: Perbedaan dakwah dahulu dan sekarang terletak pada cara penyampaiannya. Dahulu, nilai Islam langsung diwujudkan dalam perilaku nyata. Saat ini, sering kali fokus dakwah hanya pada penyampaian teori ilmu tanpa diiringi pengamalan akhlak.
Pendekatan Budaya Local (Sunan Kalijaga): Tokoh penyebar Islam seperti Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan yang menyesuaikan dengan budaya setempat. Hal ini selaras dengan QS. Ibrahim ayat 4, bahwa setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya agar pesan mudah dipahami.
Evaluasi Diri: Jika ajakan dakwah belum diterima, hal tersebut hendaknya menjadi bahan evaluasi diri dengan meneladani kesabaran para nabi.
73 golongan Islam dan Pemahaman Satu Golongan yang Selamat
Hadits menyebutkan bahwa umat Islam akan terbagi menjadi 73 golongan. Namun, konteks 72 golongan yang diancam neraka tidak serta-merta mengeluarkannya dari Islam. Selama seseorang masih berpegang pada dasar utama (Rukun Iman, Rukun Islam, dan Syahadat), ia tetap terhitung sebagai Muslim. Jika terdapat kekurangan atau dosa, orang tersebut dapat menerima balasan sesuai amalnya terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk surga.
Satu golongan yang selamat bukan merujuk pada label atau nama kelompok tertentu, melainkan siapa saja yang berusaha mengikuti ajaran Islam sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW. Perbedaan cabang amalan (furu'iyah) tidak otomatis mengeluarkan seseorang dari golongan yang selamat. Cara untuk menjadi bagian dari golongan yang selamat adalah dengan terus memperbaiki diri dan istiqamah di jalan Allah SWT.
Kesimpulan & Penutup
Menjalani jalan dakwah dan kebaikan memang tidak selalu mudah serta dipenuhi rintangan. Namun, selama jalan tersebut membawa kemanfaatan bagi diri sendiri dan orang lain, hendaknya kita terus melangkah di dalamnya.
Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan (amar ma'ruf nahi munkar) merupakan ciri dari orang-orang yang beruntung, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ali 'Imran ayat 104.

Kembali ke Daftar Artikel
Kajian Islami
Jejak Dakwah Para Nabi dan Sejarah Islam di Indonesia
oleh Departemen Syiar Kampus