Pendahuluan
Hai Sobat UKMI!, Tahukah kamu bahwa jutaan rakyat Palestina hingga hari ini masih hidup sebagai pengungsi akibat sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Nakba? Nakba atau “malapetaka” merupakan istilah yang digunakan rakyat Palestina untuk menggambarkan tragedi besar tahun 1948 ketika ratusan ribu warga Palestina terusir dari tanah kelahiran mereka seiring berdirinya Israel. Peristiwa ini tidak hanya menyebabkan hilangnya rumah dan tanah, tetapi juga menghancurkan kehidupan sosial, ekonomi, dan identitas bangsa Palestina.Sejak tahun 1948, lebih dari 700.000 warga Palestina dipaksa meninggalkan kampung halamannya dan ratusan desa Palestina dihancurkan atau dikosongkan. Banyak keluarga terpisah dan hidup berpindah-pindah di kamp pengungsian di Lebanon, Jordan, Syria, serta wilayah seperti Gaza Strip dan West Bank. Hingga kini, jutaan keturunan pengungsi Palestina masih belum dapat kembali ke tanah yang mereka tinggalkan.
Sejarah Singkat Nakba
Tragedi Nakba bermula setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan Resolusi 181 pada November 1947 yang membagi Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi. Setelah itu, kelompok milisi Zionis seperti Haganah, Irgun, dan Lehi mulai melancarkan serangan terhadap desa-desa Palestina yang menyebabkan pengusiran massal warga Palestina. Pada Maret 1948, kepemimpinan Zionis menyetujui Plan Dalet, strategi militer untuk menguasai wilayah Palestina melalui penghancuran desa dan pengusiran penduduk.
Kekerasan dan serangan yang terjadi di berbagai wilayah Palestina memicu ketakutan serta gelombang pengungsian besar-besaran warga Palestina. Salah satu peristiwa yang paling dikenal dalam periode tersebut adalah pembantaian di Deir Yassin pada April 1948 yang semakin mempercepat eksodus warga Palestina dari tanah kelahiran mereka. Setelah Israel mendeklarasikan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948, perang Arab-Israel pun pecah. Hingga tahun 1949, sekitar 750.000 warga Palestina terusir dari tanah mereka dan ratusan desa Palestina dihancurkan. Hingga kini, jutaan keturunan pengungsi Palestina masih hidup di pengungsian dan belum dapat kembali ke tanah kelahiran mereka
Deir Yassin

Salah satu peristiwa paling tragis dalam Nakba terjadi di Deir Yassin pada 9 April 1948, ketika lebih dari 100 warga Palestina, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, dibunuh oleh milisi Zionis Irgun dan Lehi. Peristiwa ini memicu ketakutan besar di kalangan warga Palestina dan menyebabkan gelombang pengungsian massal dari desa-desa Palestina.
Pengusiran dan pembantaian yang terjadi selama Nakba menjadi bagian dari proses penghancuran masyarakat Palestina untuk membentuk negara mayoritas Yahudi di Palestina. Hingga tahun 1949, sekitar 750.000 warga Palestina terusir dari tanah kelahiran mereka dan ratusan desa Palestina dihancurkan atau dikosongkan. Banyak pengungsi Palestina kemudian hidup di kamp-kamp pengungsian di Gaza Strip, West Bank, dan negara-negara sekitarnya.
Kenapa Nakba 15 Mei?
Orang Palestina memperingati Nakba pada tanggal 15 Mei karena pada hari itu terjadi dua peristiwa besar. Pertama, pada malam 14 Mei 1948, Inggris mengakhiri kekuasaannya di Palestina. Delapan jam sebelum itu, David Ben-Gurion menyatakan kemerdekaan Israel di Tel Aviv. Keesokan harinya, 15 Mei, negara Israel secara resmi terbentuk.Tanggal 15 Mei diresmikan sebagai hari peringatan nasional oleh Yasser Arafat pada tahun 1998, untuk mengenang 50 tahun Nakba. Ini membuat tanggal tersebut menjadi penting bagi orang Palestina sebagai momen untuk merenungkan kehilangan besar mereka dan memperingati tragedi nasional. Meskipun tanggal 15 Mei 1948 diresmikan sebagai peringatan Nakba, kelompok bersenjata Zionis sebenarnya telah memulai proses pengusiran warga Palestina jauh sebelumnya. Faktanya pada tanggal 15 Mei 1948, setengah dari total jumlah pengungsi Palestina telah diusir secara paksa dari negara mereka.
Keadaan Sekarang
Hingga hari ini, dampak Nakba masih sangat terasa bagi rakyat Palestina. Saat ini terdapat lebih dari 5,9 juta pengungsi Palestina yang terdaftar di UNRWA dan tersebar di berbagai negara seperti Yordania, Lebanon, Suriah, serta wilayah Gaza dan West Bank. Mereka dan keturunannya masih hidup dalam ketidakpastian, menunggu hak untuk kembali ke tanah kelahiran leluhur mereka yang dijamin dalam Resolusi PBB No. 194.
Di Gaza, kondisi semakin memburuk akibat blokade berkepanjangan dan konflik bersenjata yang terus berlangsung. Warga Palestina di sana menghadapi krisis kemanusiaan yang serius, mulai dari keterbatasan akses air bersih, listrik, layanan kesehatan, hingga pangan. Sementara di West Bank, perluasan pemukiman ilegal Israel terus berlanjut dan semakin mempersempit ruang hidup warga Palestina.
Bagaimana Kita Menaggapinya?
Sebagai Muslim dan manusia yang peduli terhadap keadilan, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan:
Pelajari dan Sebarkan: Jangan biarkan sejarah ini terlupakan. Pelajari fakta tentang Nakba dan bagikan kepada orang-orang di sekitar kita agar kesadaran terus tumbuh.
Dukung secara Nyata: Dukung gerakan boikot produk yang terafiliasi dengan pendudukan, serta pilih produk alternatif sebagai bentuk solidaritas ekonomi.
Doakan: Jangan pernah berhenti mendoakan saudara-saudara kita di Palestina. Doa adalah senjata paling kuat bagi seorang mukmin.
Jaga Narasi: Lawan disinformasi dengan menyebarkan informasi yang benar dan berimbang tentang Palestina di media sosial kita masing-masing.
Ingat dan Peringati: Setiap 15 Mei, ikut serta dalam memperingati Nakba sebagai bentuk solidaritas bahwa kita tidak melupakan mereka.
"Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka." (HR. Thabrani)
