Definisi Sekaten
Apa itu sekaten?
Sekaten memiliki beberapa makna yaitu diantaranya :
“Sekaten” dari kata bahasa arab “Syahadatain” yang bermakna dua kalimat syahadat.
Sekaten dari kata “Sekat” berarti manusia harus membatasi dirinya dalam tidak melakukan tindakan kejahatan serta mengetahui segala batasan kejahatan dan kebaikan
“Sekati” bermakna manusia harus bisa menyeimbangi setiap hal baik dan buruk yang akan dilakukannya.
Makna Definisi Sekaten
Dari definisi sekaten dapat disimpulkan bahwa sekaten memiliki makna untuk membatasi, memelihara, dan menghindarkan manusia dari segala bentuk perbuatan yang melanggar aturan Tuhan.
Sejarah Sekaten
Bagaimana awal mulanya sekaten diadakan?
Sekaten sudah ada di kerajaan Majapahit pada masa kepemimpinan Prabu Brawijaya V. Sekaten bermula ketika putranya, Raden Patah yang baru pindah keyakinan ke agama Islam merencanakan penyerangan ke Majapahit bila Ayahnya menolak masuk Islam. Mendengar kabar itu, sang Prabu bersedih dan bertapa selama 12 hari. Para ahli gending mencoba menghiburnya dengan iringan hingga menghasilkan irama berganti-ganti, kadang bergemuruh, kadang mendayu. Namun suara gamelan tersebut bukannya menghibur. justru membuat hati beliau bersedih. Sejak itu gamelan dinamai Sekati, karena membuat Prabu Brawijaya V merasa sesek ati (sesak hati).
Sekaten juga dikenal sebagai sarana dakwah di masa Islam. Sejarah ini bermula ketika Sunan Kalijaga yang berada di Kerajaan Demak menyebarkan agama Islam kepada masyarakat yang masih menganut Hindu Budha. Dengan menabuh gamelan sebagai pengiring lagu ciptaan beliau, masyarakat yang tertarik kemudian berkumpul, setelahnya Sunan mengajarkan Islam dan membimbing mereka mengucapkan dua kalimat syahadat.
Rangkaian acara di Sekaten
Acara Sekaten ngapain aja sih?
Di keraton Surakarta sendiri prosesi sekaten dibagi menjadi 4 prosesi yaitu
1. Tabuhan Gamelan Pusaka (Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari)
Aktivitas ini menjadi tanda pembuka Grebeg Maulud. Tabuhan gamelan dilaksanakan di Masjid Agung selama 24 jam dan diberhentikan sejenak setiap waktu sholat datang. Tabuhan ini akan berlangsung sampai menyongsong kegiatan Grebeg Maulud Sekaten sekitar 7 hari kemudian. Tempo tabuhannya lebih lambat seiring tarikan nafas para penabuh dan pendengarnya.
2. Jamasan Meriam Pusaka Kyai Setomi
Dilakukan 2 hari sebelum Grebeg Maulud dengan membersihkan meriam pusaka keraton yang ada di Bangsal Witono Sitihinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta.
3. Pengembalian Gamelan Pusaka
Di pagi hari saat puncak Sekaten, sebelum pemberian sedekah Raja, para abdi dalem keraton memasukkan Gamelan Kyai Gunturmadu ke dalam ruang pusaka, lalu Gamelan Kyai Guntursari dibawa ke depan Sasana Sewaka dan ditabuh untuk mengiringi Hajad Dalem Gunungan Sekaten ke Masjid Agung.
4. Grebeg Maulud
Dilakukan di tanggal 12 Mulud, di hari dimana sang raja akan memberikan sedekah kepada rakyatnya berupa arak arakan gunungan hasil bumi yang dibagi menjadi dua jenis yakni gunungan Estri (buat perempuan) dan Jaler (buat laki laki). Gunungan lalu dibawa ke Masjid Agung oleh para sentana, pengawal dan abdi dalem, setelah itu didoakan oleh ulama keraton di Masjid Agung, setelah itu gunungan dibagikan kepada masyarakat dan diambil dengan cara berebut.
Makna Diadakannya Acara Sekaten
Makna dibalik acara sekaten apakah hanya sebuah tradisi turun temurun saja?
Tentu tidak, berikut makna sekaten yang sebenarnya:
1. Kebersamaan dalam Keberagaman
Sekaten melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Salah satu prosesnya yaitu Pawai gunungan menjadi simbol bahwa setiap individu berhak merasakan berkah dari perayaan Sekaten ini karena dibagikan kepada semua orang tanpa membeda- bedakan.
2. Toleransi terhadap Kebudayaan Lokal
Sekaten yang dibawakan Sunan Kalijaga menggabungkan unsur-unsur budaya Jawa yang kental dengan Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam dapat berdampingan dengan budaya lokal tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional. Toleransi terhadap perbedaan agama dan budaya menjadi inti dari pelaksanaan Sekaten.
3. Peran Seni dan Budaya dalam Kehidupan Sosial
Sekaten mencerminkan pentingnya seni dan budaya dalam masyarakat. Melalui pertunjukan gamelan, tradisi ini tidak hanya mengajarkan ajaran Islam, tetapi juga mendorong masyarakat mengenal seni yang telah dibuat oleh para pendahulu. Hal ini mengajarkan bahwa Islam dan seni itu saling berdampingan.
4. Berbagi Rezeki dan Keadilan Sosial
Ciri khas Sekaten adalah pembagian gunungan yang berisi hasil bumi kepada masyarakat, yang simbolis sebagai bentuk berbagi rezeki dan berkah. Ini mencerminkan nilai-nilai keadilan sosial, di mana semua orang berkesempatan menikmati berkah perayaan.
Referensi:
Ahmad, I., Syafrijal, B. N., Octa, A. N., Adhi, E. P., & Rizky, A. P. (2021). Tradisi Upacara Sekaten di Yogyakarta. Program Studi Sastra Daerah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Eko, M. F., Al-Mumtaza, D. H., & Panggabean, Y. P. (2024). Kontruksi sosial tradisi sekaten surakarta dalam perspektif teori tafsir sosial. TUTURAN: Jurnal Ilmu Komunikasi, Sosial Dan Humaniora, 2 (3), 151–159.
Pramudita, O. D. (2022). Dakwah berbasis budaya melalui upacara Sekaten di Solo. Tajdida: Jurnal Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah, 20(1), 25-30.
https://kumparan.com/lulu-fardiyatul/sejarah-dan-makna-tradisi-sekaten-24ARZXW1yEW/3



